Sabtu, 20 September 2014

Tepian Rinduku

Kelam...
aku terharu dalam temaram senja disudut jingga semalam
kadang tertatih merajuk dalam selasar gundah
rupanya tak menepi jua rindu alang-alang diujung ranting
aku merangkai kata dalam tatapmu dipasung rajah elora hatiku

Muram...
seperti dua mata pisau takdir mereka tak satu
seperti aku tertidur ditirai hatimu hanya tertidur
menjelang pagipun tak mampu melenakan tidurku
dan engkau hanya menatap dalam diam seribu cerita sembab

Suram...
jangan pernah melangkahi malam dalam kelambu dendam
seloroh angin saja tak hendak mengusap luka dalam nanahnya
karena rasa adalah pelukan hangat mentari diujung timur yang syahdu
jaga dia lewati kisahnya sampai sore bersama angin yang bersenandung
belai lukanya yang tak surut tergores rindu

Geram...
jika hanya kantuk mungkin tidur melepas penatnya
tapi bara yang memerah tak padam karena angkaranya gusar
maka aku hentikan guratan angan tanpa daya disimpang itu diatas
rerumputan yang tertunduk merunduk tertusuk membusuk...menanti tunas
semusim lagi...mungkin...entahlah...makapun sunyi...merepih luka...

kepada engkau wahai jiwa gundahku yang rindu